Example 728x250

Gema Tambur di Purwodadi Arga Makmur: Budaya yang Hidup dan Mengakar di Bengkulu Utara

Bengkulu Utara, InfoUtara.com — Suasana jalanan tampak meriah ketika sekelompok pemusik tambur berjalan mengiring pengantin, memainkan alat musiknya di tengah keramaian warga. Tradisi tambur yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Purwodadi, Arga Makmur, Bengkulu Utara, kembali menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya yang tidak hanya diwariskan turun-temurun, tetapi juga tetap hidup dan diterima di berbagai kalangan.

Secara historis, tradisi tambur di Bengkulu Utara merupakan bentuk akulturasi budaya yang tumbuh dari pengaruh kesenian Tambua Tasa masyarakat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, kesenian ini tidak lagi hanya dimiliki oleh satu kelompok suku tertentu. Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas hiburan rakyat yang merakyat, terutama dalam acara-acara adat, pesta pernikahan, menyambut tamu agung, maupun pembukaan festival budaya daerah. Kemeriahan kesenian ini kini kerap dijumpai di tingkat desa dan kelurahan hingga ke kecamatan, khususnya di wilayah Kecamatan Arga Makmur.

Formasi kesenian tambur umumnya terdiri atas Gandang Tambua, berbentuk silinder lurus yang terbuat dari kayu keras dengan kedua sisi dilapisi kulit kambing atau sapi. Alat musik ini disandang di bahu pemain dan dipukul menggunakan dua batang kayu pemukul sambil berdiri. Serta Tansa, alat musik pemimpin ritme yang dipukul dengan stik rotan. Kombinasi keduanya menghasilkan tabuhan yang nyaring, bersemangat, dan mampu menciptakan suasana mahoyak — suasana heboh dan penuh semangat — di sepanjang jalan yang dilewati.

Keunikan tradisi tambur di Bengkulu Utara terletak pada sifatnya yang inklusif. Kesenian ini tidak hanya disewa oleh keluarga bersuku Minang, tetapi juga telah banyak diadopsi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku lain untuk memeriahkan pesta pernikahan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga terus berbagi ruang dalam kehidupan sosial masyarakat yang beragam.

Fungsi utama tradisi tambur adalah mengiringi prosesi bararak, yaitu arak-arakan pengantin menuju pelaminan. Tabuhan yang dimainkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi penanda bahwa acara adat sedang berlangsung, sekaligus mengundang warga sekitar untuk ikut meramaikan suasana.

Meskipun Bengkulu juga memiliki alat musik perkusi khas daerah lain seperti Doll atau Tambur Bengkulu, kehadiran kelompok kesenian tambur berirama Minang tetap populer, terutama di wilayah Purwodadi dan Arga Makmur.

Hingga saat ini, tradisi tambur masih sering tampil dalam berbagai acara kemasyarakatan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang terus dijaga, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

(Laporan: Tim InfoUtara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *